Selasa, 26 Februari 2013

PENERAPAN METODE BELAJAR PQ4R DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII-B MTS MUHAMMADIYAH I MALANG TAHUN PELAJARAN 2011-2012



PENERAPAN METODE BELAJAR PQ4R DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII-B
MTS MUHAMMADIYAH I MALANG
TAHUN PELAJARAN 2011-2012

Ahmad Ahyar

Abstrak
Penerapan Metode Belajar PQ4R dalam Pembelajaran Sejarah untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-B MTs Muhammadiyah I Malang Tahun pelajaran 2011-2012. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah dan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Sosial dan Humaniora, Ikip Budi Utomo Malang. Pembimbing: Drs. Nurcholis Sunuyeko, M.Si.

Kata Kunci: PQ4R, Motivasi, hasil belajar, PTK, MTs Muhammadiyah I Malang.



Pendahuluan

Pendidikan sebagai suatu sistem pencerdasan anak bangsa, dewasa ini di hadapkan pada berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial budaya, maupun politik. Permasalahan pendidikan yang di hadapi bangsa Indonesia saat ini menurut Hanafiah & Suhana  (2009) adalah masih rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan  pendidikan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan sekolah, sangat diharapkan berperan sebagaimana mestinya dan sebagai tenaga kependidikan yang berkualitas.
Dalam upaya meningkatkan hasil belajar, perlu dikembangkan penyempurnaan-penyempurnaan strategi, teknik dan model pembelajaran yang tepat.
Perkembangan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) selalu dinamis karena objek yang dipelajari adalah hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan fenomena alam lingkungan sosial seperti juga pelajaran sejarah. Namun pada pelajaran sejarah, obyek yang dipelajari adalah hubungan manusia dengan peristiwa masa lampau (Kartodirdjo, 1993). Jadi, akan sulit bagi siswa untuk memahami sejarah secara utuh apabila guru tidak mampu untuk menyusun metode dan melaksanakan pembelajaran dengan baik. Fenomena pembelajaran sejarah menjadi sangat rumit dan ini sampai sekarang masih menjadi permasalahan.
Mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu alternatif metode pembelajaran yang tepat dan menarik. Salah satu metode yang menarik menurut peneliti untuk diterapkan adalah dengan menggunakan metode belajar PQ4R dalam pembelajaran sejarah.
Metode belajar PQ4R adalah merupakan salah satu bagian pembelajaran aktif (active learning) yaitu segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran.
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini, yaitu diharapkan hasil penelitian ini memberikan kegunaan yang positif,  antara lain:
1.      Bagi siswa
Diharapkan setelah proses penelitian, guru mata pelajaran sejarah dapat menerapkan metode  PQ4R ( Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) di kelas sesuai dengan karakteristik materi pelajarannya, sehingga potensi-potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang dengan baik.
2.      Bagi peneliti
Dengan selesainya penelitian penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan peneliti khususnya wawasan mengenai seluk beluk tentang penelitian antara lain adalah:
a.       Sebagai dasar pengalaman di bidang penelitian yang ada hubungannya dengan mata pelajaran sejarah dan ilmu–ilmu sosial lainnya.
b.      Sebagai bahan acuan penelitian yang relevan untuk masa yang akan datang.
c.       Hasil laporan penelitian ini diharapkan lebih memotivasi peneliti sendiri untuk lebih giat dan terus mengembangkan kemampuan diri dalam melakukan penelitian di sekolah, baik yang menggunakan pendekatan Qualitative maupun Quantitatif.
3.      Kegunaan praktis, yaitu diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan masukan yang positif, baik bagi guru maupun kepala sekolah, dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada setiap mata pelajaran, khususnya  bagaimana langkah-langkah operasional dalam melakukan inovasi pembelajaran.

Metode Penelitian

Rumusan masalah penelitian yang diajukan dalam PTK ini adalah: (1) Bagaimana hasil belajar siswa kelas VIII-B semester genap di MTs Muhammadiyah I Malang tahun pelajaran 2011-2012, sebelum diterapkannya metode belajar PQ4R? (2) Bagaimana proses penerapan metode PQ4R) pada siswa kelas VIII-B semester genap di MTs Muhammadiyah I Malang tahun pelajaran 2011-2012? (3) Bagaimana motivasi belajar siswa kelas VIII-B semester genap MTs Muhammadiyah I Malang tahun 2011–2012, setelah di terapkannya metode belajar PQ4R? (4) Bagaimana hasil belajar siswa kelas VIII-B semester genap MTs Muhammadiyah I Malang tahun 2011–2012, setelah di terapkannya metode belajar PQ4R?
Pendekatan Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang dipilih adalah Penelitian tindakan (action research) dengan strategi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dua siklus. Sedangkan model penelitian tindakan yang di pergunakan adalah model penelitian dari Kemmis dan Taggart dalam Arikunto, (2010:16), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).

Deskripsi Data dan Hasil Penelitian

Deskrispsi Data dan Hasil Observasi Awal
Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam hal ini adalah sebagai berikut:
1)      Melakukan wawancara tak terstruktur dengan guru bidang studi sejarah mengenai motivasi dan hasil belajar siswa pada semester ganjil dan menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya peneliti akan melakukan pengamatan langsung kedalam kelas dan menyebarkan angket.  
2)      Mengikuti dan mengamati kegiatan belajar mengajar di kelas pada saat mata pelajaran sejarah berlangsung. Tujuannya adalah  untuk mendapatkan data awal bagaimana motivasi dan hasil belajar siswa sebelum tindakan dilakukan. Sebelum masuk kedalam kelas peneliti bersama guru bidang studi sepakat untuk membagi waktu selama didalam kelas yaitu dengan cara untuk 40 menit pertama digunakan oleh guru bidang studi menyampaikan peta konsep materi yang akan diajarkan. Sedangkan 40 menit berikutnya digunakan oleh peneliti untuk berkenalan sekaligus menyebarkan angket motivasi belajar kepada siswa. Selama proses pembelajaran berlangsung ditemukan beberapa fakta diantaranya adalah, metode yang digunakan oleh guru adalah ceramah dan tanya jawab, keadaan siswa begitu pasif, siswa nampak kurang persiapan sebelumnya untuk mengikuti pelajaran, siswa banyak yang tidak mendengarkan penjelasan guru, ada beberapa siswa yang berbicara sendiri.
3)      Setelah melakukan observasi dan memberi angket dalam kelas, secara bersamaan peneliti langsung membicarakan permasalahan yang dihadapi selama kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Hasil pembicaraan tersebut antara lain:
a)      Peneliti bersama guru bidang studi berkolaborasi untuk dapat memecahkan persoalan yang terjadi di dalam kelas selama kegiatan penelitian.
b)      Pemberian tes awal/pra tindakan (Rabu, 18 Januari 2011) untuk mengetahui bagaimana hasil belajar siswa sesungguhnya sebelum tindakan dilakukan. Soal yang diberikan berjumlah 10 soal dalam bentuk soal uraian/subjektif. Soal diambil dari soal yang sudah diberikan oleh guru bidang studi sebelumnya yaitu soal Ulangan Tengah Semester (UTS).

Deskripsi Data dan Hasil Tindakan Siklus I
Pelaksanaan tindakan meliputi tahapan perencanaan (planning), pelaksanaan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection).

Deskripsi Data dan Hasil Tindakan Siklus II
Siklus II merupakan pelaksanaan tindakan dan hasil refleksi dari siklus I yang juga meliputi tahapan perencanaan (planning), pelaksanaan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Pelaksanaan kegiatan pada siklus II ini mengalami perubahan dari hasil refleksi pada siklus I.
Temuan Penelitian Tindakan Siklus II
Beberapa temuan penelitian yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran pada siklus II yaitu sebagai berikut :
a)      Proses Pembelajaran
1)      Proses pembelajaran pada siklus tindakan II  terlihat bahwa siswa sudah cukup merespon pembelajaran dengan baik bila dibandingkan dengan Siklus I. Mereka cukup antusias dalam mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan walaupun ada sebagian kecil yang masih terlihat masih belum bekerja sama secara maksimal dalam 1 kelompok.
2)      Sebagian besar siswa sudah berani untuk mengungkapkan ide-idenya baik pada temannya dalam satu kelompok maupun didepan guru dan kelompok lain.
3)      Pada saat proses pembelajaran berlangsung 9 siswa keluar minta izin untuk meninggalkan kelas karena ada kegiatan IPM
4)      Siswa sudah tidak kebingungan lagi dalam menerapkan metode belajar PQ4R.
5)      Pemahaman konsep materi dan pemberian tugas rumah dari guru kepada siswa sudah cukup maksimal.
6)      Peneliti masih perlu menciptakan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan lagi pada siswa, misalnya dengan memanfaatkan video pembelajaran.
b)     Hasil Belajar
Berdasarkan hasil tes belajar siklus II, bila dilihat dari nilai rata-rata ketuntasan secara klasikal persentasenya justru sudah mengalami peningkatan. Analisis hasil belajar siswa pada siklus II dilihat dari prosentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 83%.
c)      Motivasi Belajar
Berdasarkan hasil angket respon siswa yang diberikan setelah pelaksanaan tindakan (diakhir pembelajaran Siklus II), motivasi belajar siswa dalam pembelajaran sejarah lebih meningkat dibanding siklus I. Hal ini dibuktikan setelah peneliti memberikan angket respon diakhir pembelajaran siklus II, walaupun harus diakui, bahwa masih ada kelemahan/kekurangan yang masih perlu dijadikan sebagai bahan evaluasi dan refleksi oleh peneliti misalnya, memberikan apresiasi berupa hadiah kepada siswa (masing-masing kelompok) yang mampu bekerja secara optimal dalam menerapkan metode belajar PQ4R agar lebih termotivasi dalam kegiatan proses pembelajaran.
d)     Refleksi Hasil Tindakan Siklus II
Berdasarkan hasil temuan penelitian dan catatan lapangan pada siklus II, proses pembelajaran sudah cukup baik bila dibandingkan dengan siklus I, karena tahapan-tahapan yang direncanakan dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sudah dapat terlaksana dengan baik, walaupun ada beberapa indikator yang masih belum muncul baik dari aspek guru maupun dari aspek siswa. Sebagian besar siswa sudah berani untuk mengungkapkan ide-idenya baik pada temannya dalam satu kelompok maupun didepan guru dan kelompok lain. Siswa sudah tidak kebingungan lagi dalam menerapkan metode belajar PQ4R. Pemahaman konsep materi dan pemberian tugas rumah dari guru kepada siswa sudah cukup maksimal walaupun peneliti masih perlu menciptakan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan lagi pada siswa, misalnya dengan memanfaatkan video pembelajaran. Secara umum hasil analisis pada observasi kualitas pembelajaran pada siklus II baik ditinjau dari aspek guru maupun dari aspek siswa baik sekali, walaupun masih tetap menyisihkan kekurangan dan kelemahan.
Dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada siklus II, juga menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang cukup baik dari pada sebelumnya. Sebagian siswa sudah dapat menguasai konsep dan cukup mampu untuk mengembangkannya. Hal ini, dapat diketahui dari hasil analisis belajar siswa yang sudah memenuhi standar ketuntasan belajar sebanyak 20 siswa dari 24 siswa atau sebesar 83%.
Demikian pula dengan motivasi belajar siswa, berdasarkan hasil pengamatan melalui penyebaran angket motivasi dan angket respon siswa menunjukkan perubahan motivasi belajar siswa semakin mengalami peningkatan mulai sebelum dan setelah tindakan dilakukan (siklus I dan siklus II.
Berdasarkan uraian temuan penelitian di atas, peneliti dapat memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran sejarah melalui penerapan metode belajar PQ4R di kelas VIII-B pada pokok bahasan PPKI dan situasi di Indonesia, dengan menggunakan metode pembelajaran PQ4R, secara benar dan optimal, sesuai rencana dan skenario pembelajaran dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, peneliti mengakhiri kegiatan penelitian.

Hasil dan Pembahasan

Proses Pembelajaran Melalui Penerapan Metode Belajar PQ4R dalam Pembelajaran Sejarah
Metode belajar PQ4R merupakan salah satu metode pendukung pengembangan pembelajaran kooperatif. Sebab pembelajaran konstruktivisme dapat dikembangkan jika peserta didik telah mempunyai Prior Knowledge atau previouse experience. Pembelajaran konstruktivisme tidak berangkat dari blank mind. Fenomena yang terjadi selama ini di dalam kelas, pembelajaran kooperatif tidak berjalan secara efektif. Diskusi sebagai salah satu mekanisme membangun kooperatif kooperatif tidak berjalan efektif karena diskusi banyak di dominasi oleh salah seorang siswa yang telah mempunyai skemata tentang apa yang akan dipelajari. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif membutuhkan persiapan matang. Pertama, peserta didik harus punya skemata atau pengetahuan awal tentang apa yang akan dipelajari. Kedua, siswa harus sudah punya keterampilan dan keberanian bertanya jawab. Oleh karena itu pembelajaran kooperatif membutuhkan dukungan pengalaman peserta didik baik berupa pengetahuan awal maupun keterampilan bertanya jawab. Ketiga, pengalaman awal siswa bisa dibangun melalui aktivitas membaca. Dengan kegiatan ini siswa akan memiliki stock of knowledge. Salah satu metode yang efektif untuk dilakukan adalah dengan menerapkan metode belajar PQ4R. (Suprijono (2011:102-103).
Berdasarkan deskripsi data dan hasil penelitian pada bab sebelumnya, proses pembelajaran pada siklus I melalui penerapan metode belajar PQ4R secara umum sudah baik walaupun ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki pada siklus II. Hal ini dapat dilihat dari hasi observasi yang dilakukan oleh guru bidang studi yang berperan sebagai observer dan peneliti sebagai guru kelas sekaligus sebagai pengamat. Artinya pelaksanaan pembelajaran sudah sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan skenario pembelajaran walaupun masih ada beberapa indikator yang belum muncul dari peneliti. Hasil yang dicapai pada siklus I bila ditinjau dari aspek guru pada pertemuan ke-1 mencapai 78%, dan pada pertemuan ke-2 siklus I mencapai 83%. Sedangkan proses pembelajaran bila ditinjau dari aspek siswa pada pertemuan ke-1 siklus I mencapai 68%, dan pada pertemuan ke-2 siklus 1 mencapai 82%.
Berdasarkan kelemahan–kelemahan yang terdapat pada kegiatan pembelajaran pada siklus I, maka dilakukan perbaikan pada siklus II. Proses pembelajaran pada siklus II mengalami peningkatan dibanding pada siklus I. Hasil yang dicapai pada siklus II bila ditinjau dari aspek guru mencapai 91,66%, Sedangkan ditinjau dari aspek siswa mencapai 90%.
Hasil Belajar Siswa
Hasil yang dicapai di akhir siklus I, jika dilihat dari hasil belajar siswa memang sudah mencapai standar ketuntasan belajar. Bila ditinjau dari aspek ketuntasan belajarnya telah mengalami peningkatan dari 4,16%. (1 siswa dari 24 siswa ) menjadi 75% (18 siswa dari 24 siswa ), tetapi karena adanya beberapa kelemahan/ kekurangan pada siklus I yang perlu diperbaiki atau disempurnakan lagi pada siklus II sesuai temuan penelitian pada siklus I, maka peneliti melanjutkan pada siklus II.
Pada pembelajaran di siklus II, nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa lebih meningkat dibandingkan siklus I. Nilai ketuntasan belajar yang dicapai siswa sebesar 83,33%. Hasil tesebut menunjukkan bahwa pada siklus II, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari hasil belajar siswa pada siklus I. Jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 20 siswa, sedangkan yang belum tuntas hanya 4 siswa.
Motivasi Belajar
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah motivasi belajar. Jika motivasi belajar siswa tinggi maka hasil belajarnya juga akan meningkat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Fyan dan Maerh dalam bahwa dari tiga faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu latar belakang keluarga, kondisi atau kontek sekolah dan motivasi, maka faktor yang terakhir merupakan faktor yang paling baik. Sedangkan Welberg dkk. Menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap hasil belajar. Studi yang dilakukan Suciati menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36%, dan Mc Clelland menunjukkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi sampai 64%. (Supriyono, 2011:162).
Sebelum diterapkannya metode belajar PQ4R, motivasi belajar siswa cukup rendah. Hal ini dapat diketahui dari hasil pemberian angket motivasi belajar siswa kelas VIII-B MTs Muhammadiyah I Malang yang berjumlah 24 siswa melalui analisis distribusi frekuensi (persentase), menunjukkan bahwa 91,66% respon siswa ada pada kategori pilihan jawaban kadang-kadang.dengan criteria cukup atau ada pada interval 46-65.
Untuk melihat perubahan motivasi belajar siswa ada peningkatan atau tidak setelah tindakan (diakhir pembelajaran Siklus I), maka peneliti menggunakan angket respon yang terdiri dari 5 kategori pilihan jawaban sebanyak 36 item pernyataan (26 pernyataan positif dan 10 pernyataan negative). Tujuannya adalah untuk mengetahui pandangan siswa terhadap mata pelajaran sejarah setelah diterapkannya metode belajar PQ4R.
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan distribusi frekuensi relatif (persentase) pada siklus I didapatkan bahwa 33,33% siswa memiliki respon sangat baik terhadap pembelajaran sejarah, 66,66% siswa memiliki respon baik terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon cukup terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon kurang terhadap pembelajaran sejarah, dan  0% siswa memiliki respon sangat kurang terhadap pembelajaran sejarah.
Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus I memang sudah mengalami peningkatan dibanding sebelum diterapkannya metode belajar PQ4R, tetapi peneliti sebagai guru kelas masih belum mampu mendorong semua siswa khususnya yang pasif untuk lebih termotivasi dan lebih aktif lagi untuk terlibat dalam proses pembelajaran dan kurang memberikan apresiasi kepada siswa yang memperhatikan lebih dalam kegiatan proses pembelajaran, sehingga perlu diperbaiki pada siklus berikutnya.
Sedangkan hasil analisis distribusi frekuensi relatif (prosentase) pada siklus II, didapatkan hasil bahwa 8,33% siswa memiliki respon sangat baik terhadap pembelajaran sejarah, 91,66% siswa memiliki respon baik terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon cukup terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon kurang terhadap pembelajaran sejarah, dan  0% siswa memiliki respon sangat kurang terhadap pembelajaran sejarah. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan pula bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II, juga mengalami peningkatan dibanding siklus I.

Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi data dan hasil analisis data pada bab sebelumnya serta dengan berorientasi pada pada empat rumusan masalah penelitian, maka proses hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Model pembelajaran konvensional  (ceramah dan tanya jawab murni) tidak mampu meningkatkan motivasi dan  hasil belajar siswa  di kelas. Hal ini terbukti dari hasil observasi awal peneliti dengan cara mengikuti proses pembelajaran di kelas, pemberian angket kepada 24 responden dengan empat kategori pilihan jawaban yaitu selalu = 0%, sering = 8,33%, kadang- kadang = 91,66%, dengan criteria cukup atau ada pada interval 46-65, dan tidak pernah = 0%, dan melalui pemberian tes awal pra tindakan. Hasil tes belajar tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa secara klasikal  hanya mencapai 4,16%.
2.      Proses pembelajaran melalui penerapan metode belajar PQ4R pada mata pembelajaran sejarah bila ditinjau dari aktivitas guru secara umum sudah baik, sesuai rencana dan skenario pembelajaran yang dibuat. Sedangkan dari aspek siswa juga menunjukkan bahwa melalui penerapan metode belajar PQ4R, tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, semangat belajar dan partisipasi dalam proses pembelajaran, keberanian dalam mengungkapkan pendapat, respon atau inisiatif dalam memberikan alternatif jawaban terhadap permasalahan yang muncul, kedisiplinan dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, pemahaman terhadap konsep mata pembelajaran, pola berfikir kritis dan kreatif selama proses pembelajaran siswa mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Hal ini dibuktikan oleh data empirik hasil penelitian yang dicapai pada siklus I bila ditinjau dari aspek guru pada pertemuan ke-1 mencapai 78%, dan pada pertemuan ke-2 siklus I mencapai 83%. Sedangkan proses pembelajaran bila ditinjau dari aspek siswa pada pertemuan ke-1 siklus I mencapai 68%, dan pada pertemuan ke-2 siklus 1 mencapai 85%. Proses pembelajaran pada siklus II juga mengalami peningkatan dibanding pada siklus I. Hasil yang dicapai pada siklus II bila ditinjau dari aspek guru mencapai 91,66%, Sedangkan ditinjau dari aspek siswa mencapai 90%.
3.      Melalui penerapan metode belajar PQ4R baik pada siklus I maupun siklus II motivasi belajar siswa meningkat. Hal ini terbukti dari hasil pemberian angket respon pada siklus I bahwa 33,33% siswa memiliki persepsi sangat baik terhadap pembelajaran sejarah, 66,66% siswa memiliki respon baik terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon cukup terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon kurang terhadap pembelajaran sejarah, dan 0% siswa memiliki respon sangat kurang terhadap pembelajaran sejarah. Sedangkan pada siklus II didapatkan hasil bahwa 8,33% siswa memiliki respon sangat baik terhadap pembelajaran sejarah, 91,66% siswa memiliki respon baik terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon cukup terhadap pembelajaran sejarah, 0% siswa memiliki respon kurang terhadap pembelajaran sejarah, dan  0% siswa memiliki respon sangat kurang terhadap pembelajaran sejarah.
4.      Setelah pelaksanaan pembelajaran melalui penerapan metode PQ4R pada siklus I dan siklus II, hasil belajar siswa pada mata pembelajaran sejarah meningkat, terbukti nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I mencapai 75%. Sedangkan pada siklus II mencapai 83%.

1 komentar:

  1. btw buat mengetahui motivasi awal isi angketnya sama to beda sama isi angket setelah diberi tindakannya?

    BalasHapus